Cita – Cita Ku

“Aku ingin jadi Dokter!”
“Aku ingin jadi Pelukis”
“Aku ingin jadi pemain WNBA”
“Aku ingin jadi Polisi Wanita”
…….

Ya..itulah jawabanku ketika di tanya aku ingin jadi apa ketika aku besar nanti…,tidak ada yang salah dengan cita-citaku dulu,dengan polosnya aku ingin menjadi ini itu and cita citaku selalu berubah berubah seiring bertumbuhnya diriku (hi hi hi kayak tanaman ajas)

Ketika menginjak masa remaja,aku mulai mengalami krisis dimana aku baru sadar jika aku tidak punya cita-cita sama sekali!
Angan angan ku di masa kecil hanya sebuah mimpi yang aku tahu tidak akam terjadi karena di samping aku tidak benar benar serius untuk mengerjarnya,aku juga sebenarnya tidak punya passion untuk mewujudkannya untuk menjadi kenyataan,bahasa kerennya hanya angin-anginan dimasa kecil saja.

Ketika menginjak bangku Sekolah Menengah,aku mulai depresi karema aku melihat teman teman sekelasku yang kelihatannya sudah yakin dan tahu apa yang ingin mereka lakukan kelak, apa itu melajutkam pendidikam yang lebih tinggi atau meneruskan usaha orang tua mereka. Aku merasa aku selalu di titik yang sama dimana aku tidak melakukan banyak berubahan dalam hidupku.
Dan sekali lagi,aku tenggelam dalam depresi yang lebih panjang.

Lulus sekolah menengah,aku memutuskan untuk tidak melanjutkan ke perguruan tinggi karena aku tidak tahu aku inging jadi apa,aku bemar benar tidak punya passion sedikitpun temtang apa yang jngin kulakukan.
Keluarga besarku hampir semua mempunyai profesi dan mimpi yang tinggi dan memang benar benar mereka wujudkan,seperti Designer, Arsitek, ataupun Guru (menurutku Guru memang profesi yang kereen).

Nah melihat itu semua, aku semakin minder.. Aku tidak mempunyai profesi yang keren dan aku merasa aku melakukan apa yang kulakukan hanya karena aku tidak punya pilihan.

Tapi semua itu berubah..

Saat itu aku berusia 21 tahun dan masih mengeluh kenapa hidupku begitu membosankan (aku nggak mengatakan sekarang hidupku wow,tapi sekarang aku bisa mengatakan aku puas dengan hidupku).

Setiap aku pulang kerja, aku akan melewati Jembatan yang menyambung ke pertokoan pertokoan begitu, dan disana ada sepasang pria dan wanita yang mungkin sekitar 50an. Melihat penampilan mereka,aku hanya bisa berpendapat mereka itu menggantungkan hidup dengan memulung. Mereka mempunyai gerobak dan wanita paruh baya itu selalu duduk atau tiduran di dalamnya.

Pernah sekali aku melihat pria itu menghentikan gerobaknya di warung Nasi Goreng dan sekilas aku melihatnya mengerlusrkan uang recehan yang tampak kumal, 2 minggu kemudiam aku melihat mereka lagi dan aku melihat Pria itu sedang menyuapi wanita yang terbaring di dalam gerobak itu yang ternyata alasan wanita itu sering di dalam gerobak karena kedua kakinya bermasalah.

Aku sedang menunggu angkot dan sesekali memandang ke arah mereka, dan jelas terlihat rona Bahagia terpancar di raut wajah wanita dan pria paruh baya itu. Aku berpikir bagaimana mereka bisa tampak bahagia dengan keadaan mereka saat itu. Aku hidup tanpa kekurangan apapun tapi aku merasa kuramg bersyukur dan malah mengeluh dengan hidupku hanya karena aku tidak tahu apa yang ingin kulakukam dengan hidup ku.
Rasanya memalukam sekali ketika melihat mereka yang penuh kekurangan namun terlihat tegar dalam menjalani hidup.. dan disaat itulah aku melihat satu titik terang dengan apa yang ingin kulakukan dengan hidupku.. Aku ingin bahagia, aku ingin menjalani hidupku dengan mensyukuri apapun yang ku miliki tidak peduli apa yang akam ku hadapi di masa yang akan datang….

Aku ingin hidup bahagia dan tahu cara melihat sisi terang disaat aku berada disisi yang gelap.

Tidak masalah jika aku tidak punya cita-cita asal aku bisa belajar untuk bersyukur dan dikelilingi oleh orang-oramg yang kukasihi, Aku yakin aku tidak akan jatuh kedalam depressi lagi hanya karema aku tidak punya cita-cita, karena aku sudah mendapatkan kunci kebahagian itu sendiri.

Hidup ini singkat,jadi jalanilah apa adanya dan nikmati setiap detiknya..berhentilah untuk khawatir akan masa depan (tapi bukan perarti nggak memikirkan atau planning untuk masa depannya ya..he he he).

God bless!

Iklan

7 pemikiran pada “Cita – Cita Ku

  1. aih suka sedih kalo baca cerita2 kayak gitu, memang sepertinya saya kurang bersyukur dalam hidup nih, apa2 sering mengeluh padahal orang lain malah ada yang lebih susah dari kita. memang selalu melihat rumput tetangga selalu lebih hijau dari rumout sendiri,lihatnya selalu ke atas gak ke bawah :(, terima kasih sudah mengingatkan 🙂

    Suka

    • Hello Adia, iya yang namanya kita manusia memang tidak sempurna jadi pasti ada saat saat dimana kita merasa hidup ini nggak adil dan ini itu AKA nggak nersyukur atas nikmat yang di beri, tapi ngak apa apa kok menurutku itu masih hal yang lumrah,karena seperti yang ku bilang tadi kita hanya manusia yang ngak sempurna, tapi ayuk kita mencoba melihat hal2 yang menurut kita kurang baik dengan sudut pandang yang berbeda,mungkin dari situ kita bisa ambil hikmah atas apa yang kita alami.

      Terima kasih ya sudah sering berkunjung :”). *hugs*

      Suka

  2. ini dalem banget ceritanya mbak :’ kadang kita harus melihat orang lain lebih dulu, yang nampak kurang dari kita, tapi bisa bahagia, baru deh kita bisa bersyukur dengan apa yang kita punya :’ yah, sebenernya banyak banget hal yang bisa kita syukuri sekarang :’ bahagia, bahagia aja :)) Allah bersama kita :3

    Suka

    • Iya feb (aku boleh pamggil feb ya) soalny ternyata feb jauh lebih muda dari aku..hi hi hi.

      Mulai sekarang jangan terlalu banhak khawatir ini itu ya, coba di nikmati saja perjalanam hidup ini dan AMIN!! he he he

      Suka

      • Boleh banget mbak 😀 aku masih muda kok :p wkwkwk hihihi

        Aaaaah, siaaap mbak 😀 let it flow gitu ya, sambil dinikmati 😀 makasiiih petuahnya mbak :3

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s