Penyesalan Yang Mendalam

Sebelumnya kuucapkan selamat Tahun Baru untuk teman teman yang membaca blog aku ( walau telat ya ).

Di tahun 2015 banyak sekali kejadian kejadian tak terlupakan, dari kejadian yang menyenangkan hingga hal hal yang menyedihkan.
Hal-hal indah yang terjadi pada tahun 2015 sangat banyak hingga tidak sanggup di hitung lagi, berkah Tuhan begitu melimpah ^^ namun tampaknya tahun 2015 juga merupakan tahun yang penuh percobaan untuk keluarga kami ( dan disitulah iman dan kesabaran kami di uji ), dari kejadian pencongkelan toko yang terjadi berturut-turut, kecelakaan yang di alami suami saat di Jerman (untung saja orangnya nggak kenapa kenapa walau kendaraaannya rusak :'(), hingga meninggalnya tante kami yang sangat teramat mendadak di penghujung tahun 2015 kemarin.

Disaat kami seharusnya merayakan meriahnya pergantian Tahun, kami justru harus melewatinya dengan rasa duka yang mendalam.

Meninggalnya tante kami, memang cukup membuat kami sekeluarga shock karena beliau termasuk seseorang yang rutin check up dan menjaga pola hidup, hingga akhir hayatnya tidak pernah sekalipun kami mendengar keluh kesah tentang kesehatannya, adanya justru bagaimana hasil check up nya yang selalu bagus ( kebetulan tanteku itu senang berbagi informaasi dengan ibu ku tentang kesehatan ).

Ku dengar, sehari sebelum kejadian, Tanteku dan suami beliau terlibat pertengkaran, mereka memutuskan untuk tidak bertegur sapa. Keesokam pagi harinya Tanteku terlihat biasa biasa saja dan sibuk menyiapkan makanan makanan untuk Pergantian Tahun, jadi suami beliau ( pamanku ) pun berangkat kerja tanpa pamit…dan ketika pulang kerja, beliau sudah mendapati istrinya sudah tiada.

Apa bisa kalian bayangkan betapa terkejutnya pamanku itu ? Siapa yang tahu jika hari itu adalah hari terakhir tanteku itu.. siapa yang menyangka jika beliau akan pergi begitu saja tanpa memberikan tanda tanda apapun..yang tersisa hanyalah penyesalan yang sangat mendalam, jika tahu akan terjadi hal seperti itu, mungkin beliau akan menghabiskan sisa waktu terakhir mereka dengan kasih dan suka cita.. perpisahan dengan cara demikian sangatlah menyakitkan.

Sebenarnya aku sendiri paham betul penyesalan yang di alami pamanku itu, aku sendiri masih menyesali apa yang telah kuperbuat pada nenekku sendiri. Disini aku tidak bermaksud untuk mengumbar hal hal pribadi tentang keluargaku.. namun mungkin disini kalian bisa memetik suatu pelajaran dan bisa menjauhi kesalahan yang aku dan pamanku lakukan.

Aku sendiri berasal dari Kota S di salah satu pulau di Indonesia ( maaf jika kota aku samarkan karena aku ingin meminimalisi kehidupan pribadi aku ), ketika lulus sekolah, kami sekeluarga pun pindah ke kota Jakarta. Nenekku sering sekali mengunjungi kami di jakarta dari kota SS ( beda kota namun 1 provinsi dengan kota S ). Walau nenekku kesannya agak “galak” tapi hatinya sangatlah lembut. Jujur saja hubungan ku dengan nenekku itu tidaklah terlalu dekat mungkin karena faktor tidak pernah serumah dan aku cenderung menghabiskan waktuku dengan temanku atau kegiatan sekolah jika beliau datang mengunjungi kami, sedangkan aku tidak betah mengunjungi beliau karena aku kurang cocok dengan para sepupuku ( keluarga pamanku tinggal dengan beliau ) yang boleh kubilang agak jorok dan kasar dan pasti “memalak” karena tiap kali kami kesana, pasti semuanya akan meminta di traktir atau minta uang ( sepupu2ku lebih muda 2-3 tahun) secara jaman itu aku juga masih ABG, uang saku yang di berikan ortu pun ya sewajarnya saja, sedangkan aku tipe orang yang tidak bisa menolak jika di mintain beli ini itu oleh para adik sepupuku (yang jumlahnya ada 5-6 orang), jadi aku cenderung menjauhi daripada mendekat.

Nah saat lulus sekolah, kami pun pindah ke kota Jakarta dan aku tidak sempat mengambil ijazahku saat itu karena keburu berangkat duluan, setahun kemudian barulah aku kembali ke kota S untuk mengambil ijazahku, berhubung sudah tidak punya tempat tinggal lagi, aku pun menginap di rumah nenekku itu dkotA SS, dan saat i tu aku sudah bekerja, jadi ijin yang kudapati cuman 1 minggu, tapi aku tidak ingin berlama lama di sana, aku ingin segera kembali ke Jakarta setelah mendapatkan ijazahku itu.

Nenekku saat itu menurutku sangat aneh, dia trrlihat sangat bahagia ketika tahu aku datang ( sendirian dari jakarta ) untuk menginap ( atau mungkin aku tidak cukup mengenalnya hingga melihat reaksi gembiranya terkesan aneh untukku ). Dia pun terlihat sibuk untuk membereskan kamarnya agar bisa di tempati bersamaku. Setelah mengambil ijazahku di sekolahku yang dulu, aku menanyai nenekku jika dia tahu salah satu agen pesawat di lingkungan tempat tinggalnya agar aku bisa segera memesan tiket untuk ke Jakarta, namun dia justru bilang santai saja tidak usah terburu buru dan nanti beliau yang akan memesannya untukku.

Beliau pun mengajakku untuk mengunjungi para saudara-saudaranya ( yang hampir tidak kukenal sebagian, maklum nenekku mempunyai keluarga yang besar ) aku saat itu sudah mulai kesal karena aku berpikir bukannya mengenalkan aku pada salah satu agen pesawat, ini malah mengajakku keliling mengunjungi satu keluarga ke keluarga lainnya. Kebetulan juga keluarga ku sendiri menitip makanan olahan khas dari kota SS untuk di bawakan ke Jakarta, sedangkan aku tidak begitu mengenal seluk beluk kota SS, lagi lagi aku hanya bisa meminta nenekku untuk mengantarku dan lagi lagi responnya hanyalah memintaku untuk tidak terburu buru dan berjanji akan mengantarkanku.

Hari itu di habiskan dengan mengunjungi keluarga besar nenekku itu, dan ketika pulang, hari pun sudah malam, agen pesawat maupun toko makanan khas pun sudah tutup, aku pun harus menelan kekecewaan. Beliau meyakinkan aku jika keesokkan harinya aku pasti akan mendapatkan tiket pesawat dan membeli titipan keluargaku itu. Keesokan harinya beliau tidak mengantar ku ke agen penjualan tiket, namun justru membawaku ke rumah teman temannya, mengenalkan diriku kepada para teman dan sahabatnya ( dalam hati aku sudah tidak sabar ingin pergi karena disana isinya ya orang tua semua, percakapannya pun kurang nyambung untukku saat itu yang sangat egois dan keras kepala ), tapi hari itu lagi lagi di habiskan dengan mengunjungi rumah teman temannya dan well ketika pulang ke rumah nenek, hari sudah sore menjelang malam, saat itu aku sudah mau meminta bantuan pamanku tapi pamanku jarang di rumah. Nah keesokan harinya lagi lah nenekku kemudian mengantarku ke agen pesawat namun ternyata tiket sudah sold out semua, beliau kemudian mengantarku ke toko makanan khas dan ternyata makanan yang di pesan sama ortuku juga sudah sold out dan barang kosong harus nunggu seminggu, bisa di bayangkan aku sudah sekesal apa? Aku berpikir waktuku habis untuk hal yang sia sia, jika saja nenekku tidak mengulur ulur waktuku, mungkin saat itu juga aku sudah ada di jakarta. Aku kesal sekali sama nenekku hingga aku tidak mau melihat tampangnya bahkan tidak ingin bertegur sapa dengan beliau. Seminggu kemudian akhirnya aku pun mendapatkan tiket pesawat, aku segera mengepack pakaianku, dan keesokan harinya aku pun bersiap siap untuk ke bandara ( agen disana melayani antar jemput ke bandara cuman keberangkatan ke bandara harus subuh sekali sekitar jam 3 subuh sudah di jemput ), hari itu aku ingat..nenekku bangun subuh sekali, dia menyiapkan air panas untukku dan menyiapkan sarapan untukku. Beliau pun mengajakku untuk makan di meja makan dan beliau hanya duduk didepanku sambil memperhatikanku walau saat itu aku nggak sanggup mendonggakkan wajah untuk menatapnya, jadi aku hanya menhabiskan waktuku menyeselaikan sarapanku. Pukul 3 pagi tepat, agen pun menjemputku untuk berangkat ke bandara, saat itu amarahku sudah mulai mereda dan berpikir toh kelak kalau mau ketemu kapan saja bisa, tapi ternyata hari itu adalah hari terakhir dimana aku bertemu dengannya.

Sebulan setelah aku ada di Jakarta, aku mendengar kabar beliau di gigit tikus, beliau adalah penderita diabetes, dan termasuk seseorang yang sangat susah untuk berobat. Jadi beliau tidak terlalu peduli dengan keadaannya dan tidak ada yang tahu. Ketika ketahuan, luka yang disebabkan oleh gigitan tikus pun sudah meluas dan parah, beliau pun di larikan di rumah sakit dan telapak hingga pergelangan kakinya kemudian di amputasi. Saat itu ibuku sudah berada di kota SS untuk menemani beliau, waktu itu aku masih menganggap jika sudah di amputasi maka beliau sudah melewati masa kritisnya dan akan berangsur sembuh, aku tidak merasa khawatir sedikitpun..namun suatu hari aku tergerak untuk meneleponnya dan aku benar benar terkejut dengan suara beliau, suara beliau terdengar sangat lemah dan agak ngawur seperti dalam kondisi di bius. Beliau pun “mengadu” jika kakinya sekarang sangat jelek karena sudah di amputasi, aku pun mencoba menghiburnya dan berjanji akan mencarikannya sepasang sepatu agar kakinya bisa di tutupi dan tidak terlihat seperti di amputasi.

Setelah berjanji, aku pun mencoba mencari sepatu yang cocok untuk beliau, namun seminggu kemudian ibuku menelepon dan memberi tahu kami jika beliau jatuh Koma dan 2 hari kemudian beliau menghembuskan nafas terakhir.

Mendengar beliau telah tiada sangat sulit di percaya, baru kurang lebih sebulan yang lalu aku bertatap wajah dengan beliau, dan sekarang beliau sudah tiada? Aku sangat menyesali dan hingga kini masih menyesal kenapa aku tidak menghabiskam waktu lebih banyak dengan beliau.,ironisnya aku bahkan tidak memiliki satu lembar fotopun bersama beliau. Apa hal positif yang sudah ku perbuat semasa hidupnya? Aku memutuskan tidak menghadiri pemakamannya, karena apalah arti menghadiri pemakamannya ketika aku hanya “menyia-nyiakan” beliau semasa hidupnya.

Jujur dengan menceritakan hal ini di blog, tentunya sangat sulit bagiku karena aku harus membuka luka lama, kehilangan seseorang yang kita sayangi sangatlah pedih. Oleh karena itu, habiskanlah waktu dengan orang orang yang kita sayangi sebaik mungkin, jangan lah marah dan kesal kepada orang orang yang kita sayangi hingga berlarut larut. Apabila ada yang membuat kesal, di komunikasikan, di bicarakan, jangan sampai membuat jarak.

Kita tidak pernah tahu kapan kita atau orang yang kita sayangin akan di ajak pulang oleh yang Maha Kuasa.

Jangan sampai ada penyesalan dikemudian hari. Semoga teman teman dan saudara tidak akan mengalami penyesalan yang kami alami. Cintai orang orang yang kalian cintai seolah olah tiada hari esok lagi.

Tuhan memberkati.

Iklan

9 pemikiran pada “Penyesalan Yang Mendalam

  1. *peluk* Thank you ya buat sharing and reminding kita sampe menceritakan luka lama 🙂
    Nenek pasti udah bahagia ya dan pakai sepatu cantik ya di surga 🙂

    Postingannya bagus banget, gue jadi inget salah satu proverb ato quote gitu yang bilang bahwa hiduplah seperti hari ini adalah hari terakhir. Supaya ga ada penyesalan ya 🙂

    Suka

    • Thank you sis :), semoga kedepannya kita bisa menghindari hal hal yang bisa membuat menyesal.., hidup kadang terlalu singkat sih ya..he he, thank you ya sudah mampir dan sudi membaca post pertamaku di tahun 2016 yang justru isinya kurang mengenakkan.

      Suka

  2. Hai Anna turut berduka ya untuk tantemu 😦 Huhuhu iya benar sekali yg kamu bilang, kita ga pernah tahu kapan orang2 tersayang (keluarga/teman dekat) disekitar kita dipanggil olehNYA. Namanya manusia sering khilaf bikin salah, ujungnya cuma penyesalan 😦 . Btw selamat tahun baru 2016 yaa, GBU 🙂 .

    Suka

    • Anna, belum selesai komennya, kepencet. Turut berduka juga untuk nenekmu yaa..
      Dulu saya kenal baik seorang oma, saya kerja 1,5 thn sama dia, tiap 2 minggu datang ke rumahnya, tiap kali datang selalu dikasih tips yg malah lebih besar dr gajiku. Pengen sekali berfoto dg beliau, tp selalu ku tunda “berikutnya saja batinku” begitu terus selama 1,5 tahun. Suatu kali si oma sakit dan pas sembuh saya disuruh datang utk kerja lagi, saya bertekad pas ketemu lagi akan berfoto dg beliau. Eh 2 hr stl ditelp itu si oma jatuh di kamar mandi bbrp hari kemudian meninggal. Kejadiannya sdh lewat setahun tp nulis kisahnya lagi nih bikin saya nangis mewek sedih klo ingat ya cuma foto 1 aja gak punya, ya udah nasi udah menjadi bubur.. lain kali jangan nunda2 klo ingin melakukan sesuatu.

      Suka

      • Terima kasih ya Kak Nella ( boleh ya aku panggil kakak ), kejadiannya memang sudah lama sekali tapi penyesalannya tidak pernah berkurang sedikitpun, hingga kini aku menyesal hingga akhir hidup beliau, aku nggak sempat mewujudkan janjiku tentang sepasang sepatu beliau, dan aku juga nggak sempat memberitahu kalau aku sayang beliau. Kalau di pikir pikir aku punya sekali banyak kesempatan di masa lalu tapi aku sia sia in semua. Ini jadi teguran seumur hidup buat aku untuk lebih peduli dengan orang orang sekitarku yang ku sayangi, sering kali ketika ingin berbuat sesuatu pasti berpikir ah nanti saja, ah besok saja dan seterusnya tapi hidup itu rahasia Tuhan.. tanteku yang sehat sehat aja bisa mendadak kena serangan jantung 😦

        Maafin aku juga ya kak Nella sudah mengingatkan kejadian Kak Nella sama seorang Oma, semoga kedepannya kita nggak di hadapin hal hal yang kelak bikin menyesal ya.

        Oh ya Selamat Tahun baru juga ya walau telat he he.

        Suka

  3. Turut berduka buat tante mu ya 😦 Sedikit banyak gw belajar juga dari pengalaman ini dan kamu dgn Nenek mu.. Terima kasih sudah berbagi ya 🙂

    Baca ini jadi pengen cerita juga di blog, nanti deh kalo gw dah cukup siap. 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s