Cerita Soal Pengungsi

Nah kali ini aku mau sharing perihal pengungsi dari sudut pandang orang ketiga.

Aku sudah mengikuti Intergrationkurs sejak bulan July kemarin, dan di kelasku di dominasi oleh pengungsi ( tidak perlu kusebutkan juga ya negara mana karena tidak bermaksud mengotak ngotakan ).

Suatu hari, kelas kami melakukan semacam tur kota ( masih kota sekitar ) untuk mempraktekkan bahasa Jerman kami, kami diminta untuk menanyakan perihal gedung ( sepertia sejak kapam di dirikan dan lain lain ) dalam bahasa Jerman.

Nah saat kelas kami mengelilingi kota ( mungkin karena jalannya bergerombolan dengan menggunakan bahasa ibu mereka dengan nyaring, yep mereka cenderung berbicara dengan nyaring ), kami menjadi pusat perhatian dan bisa kulihat beberapa dari mereka menatap gerombolan kami dengan tidak senang dan beberapa dari mereka terlihat ketakutan, hingga kemudian terjadilah hal yang tidak di inginkan.

Ada dua orang pria setengah baya yang kebetulan mungkin sedang beristirahat dari aktifitas bersepeda mereka, guru kami meminta 2 orang dari kelas kami untuk menghampiri pria tersebut untuk menanyakan sesuatu dalam bahasa Jerman, saat mereka menghampiri kedua pria tersebut, salah satu pria tersebut langsung meninggalkan tempat peristirahatan mereka, dan ketika rekan rekan kami yang kebetulan adalah pengungsi menyapa pria ( yang belum meninggalkan tempat tersebut ), tiba tiba pria itu marah…. :o.., dan menunjuk nunjuk rekan kami itu.. guru kami pun mencoba menenangkan pria itu..tapi entahlah apa yang pria itu bicarakan ( bahasa Jermanku belum sedalam itu ), hingga menjadi pusat perhatian :o, dan akhir kata yang berhasil ku tangkap adalah “go home”sambil menunjuk rekan kami itu dan langsung meninggalkan tempat tersebut, tapi kemudian datang seorang pria tua yang menenangkan dan menghibur rekan serta guru kami itu. 

Sebenarnya bisa di lihat jika sudah beberapa warga asli disini yang tampaknya mulai agak berat dengan kehadiran para pengungsi.

Aku tidak mempunyai masalah sedikitpun dengan pengungsi dan aku berpikir, keadaan mereka ( dimana mereka harus melarikan diri dari tanah air sendiri hingga harus kehilangan orang orang yang mereka cintai hingga melepaskan harta berharga mereka dll ) tentunya bukanlah keinginan mereka. Aku bahkan bertanya kepada salah seorang teman sekelasku bagaimana dia bisa sampai di Jerman, dan katanya dia harus berjalan kaki selama 18 hari dari Turki ( aku tidak bertanya bagaimana dia bisa tiba di turki ). Tentunya kalau di ingat perjuangan mereka untuk mendapatkan rasa hidup aman, sebagai sesama manusia kita akan bersimpati…namun di lain pihak… seperti biasa perbuatan dari beberapa  orang mampu membuat stereotype suatu ras and in this case, karena perbuatan tidak bertanggung jawab dari segelintir orang, para pengungsi pun di cap sama semua. Tidak di pungkiri jika sebagian dari mereka SANGAT susah di atur, walau aku hanya mengenal mereka dari Deutschkurs ku saja ( Tidak secara global ). Aku mengatakan susah di atur karena, di kelasku sendiri seperti yang ku tulis di atas, di dominasi pengungsi (WNI hanya aku seorang, 1 dari Krotia, 1 dari Hungary dan 1 dari Turki dan kelasku berisi 15 siswa ), dan mereka memang sangat susah di atur :'(, contohnya di saat guru kami menjelaskan, mereka sibuk berbicara dengan bahasa ibu mereka dengan sangat nyaring, tidak mau mengerjakan PR, bahkan satu orang suka “mengamuk ” di kelas tiap di tanyai guruku ( padahal bertanya dengan halus ), contohnya kemarin saat di tanyai apa dia menggunakan translator dalam mengerjakan pekerjaan rumahnya karena tata bahasanya sangat berantakan ehh dianya malah marah dan ngamuk ( nggak sopam banget ), sebelumnya dia tidak pernah datang ke kelas hampir satu bulan ada kali, capek? Tidak masuk juga, malas? Tidak masuk juga, seolah olah terserah dia kapam mau masuk dan kapam mau “libur”, boleh di bilang hanya ada 2-3 dari mereka yang serius mau belajar bahasa Jerman, ada juga yang di berikan kelas tambahan agar kemampuan berbahasa jerman mereka lebih baik, eh adanya protes dan tidak senang pas di tanya guru kenapa tidak mau alasannya “sibuk” sampai guruku mungkin kesal dan mengatakan “karena kamu banyak kerjaan ya” *sarcasmdetected* ( kalau seandainya gratis juga buat aku, aku mau banget..kesempatan berharga banget bisa dapat jam tambahan gratis ).

Jujur jika melihat sikap susah di atur mereka yang demikian, ada saatnya aku merasa kesal. Pertama aku merasa terganggu disaat ingin serius belajar bahasa Jerman, guru harus berhenti menjelaskan untuk memimta mereka tenang dan lain sebagainya. Yang kedua aku merasa di rugikan karena aku harus membayar secara per Jam sedangkan mereka sering meminta istirahat buat merokoklah ( di beri waktu 5 menit buat merokok tapi masuknya setelah 10-15 menit ), istirahat yang 15 menit tapi serimg di pakai hingga 30 menit dan karena mereka tidak serius belajar sering kali kami harus ketinggalan dari jadwal seharusnya dan mengulang ngulang terus.

Mereka tidak mengeluarkan sepeserpun untuk intergrationkurs, kenapa tidak bisa menghargai dengan bantuan yang di berikan pemerintah dengan cara belajar dengan sungguh sungguh? Toh kalau mereka bisa menggunakan bahasa jerman dengan baik, akan lebih memudahkan mereka untuk bersosialisasi. 

Mungkin pemikiranku jahat atau picik cuman kalau mengingat suami harus bekerja keras dan membayar pajak yang kemudian di alokasikan kepada mereka tapi kemudian di sia siakan, kok aku jadi merasa tidak puas, beda cerita jika yang di bantu mau belajar dan patuh dengan aturan yang berlaku..kurasa warga asli disini juga bisa menerima dengan tangan terbuka lebar.

Belum lagi keresahan keresahan lain serperti yamg di ceritakan oleh temanku ( kebetulan temannya bekerja di salah satu supermarket ), dan telah terjadi beberapa kali dimana mereka membeli makanan tapi ngotot tidak mau bayar hingga katanya sekarang di tiap supermarket dijaga oleh polisi yang menyamar ( aku tidak tahu jika dari dulu supermarket sudah di jaga oleh polisi yang menyamar atau baru di mulai baru baru ini, aku hanya mendengar dengan apa Yng dikatakan temanku itu jadi mohom di koreksi kalau seandainya informasinya salah ), dan kejadian yang paling mengerikan di saat temanku itu di “stalking ” sama salah seorang pengungsi dan dengan terang terangan mengatakan ” I want you”, untunglah temanku melaporkannya ke guru kami.

Kesimpulanku sih, aku tidak ingin menstereotype jika pengungsi = pembuat masalah, di lain pihak aku tidak bisa menyalahkan sepenuhnya warga asli disini yang merasa keberatan dengan kehadiran para pengungsi karena tidak di pungkiri tampaknya sudah ada kecemburuan social ( dimana mereka tidak perlu bekerja dan mendapatkan segala fasilitas gratis sedangkan banyak orang jerman sendiri harus bekerja keras karena biaya hidup tinggi ), semoga kedepannya Pemerintah mempunyai kebijakan baru yang sama sama membuat warga asli dan pengungsi puas. Dan pastinya semoga buat mereka yang susah di atur ( nggak semuanya ) mau belajar karena ada pepatah yang mengatakan “when in Rome, do as the Romans do” dan semoga tidak ada yang menstereotype juga karena kasihan aja kalau ada yang baik jadi di anggap jelek hanya karena perbuatan sebagian orang yang kebetulan berasal/berstatus yang sama.

Iklan

8 pemikiran pada “Cerita Soal Pengungsi

  1. aku ngerti banget nih perasaan kamu, ada beberapa ras juga di kelasku dulu yang senengnya ngobrol pake bhs ibu mereka trus suaranya keras, gak pernah ngerjain PR, dan susah banget di bilangin sama gurunya, pelajaran harus di ulang2 terus karena mereka sulit paham dan gak pernah memperhatikan dngan serius, duuh jadi serba terlambat, akhirnya sama gurunya kelas kita di pisah deh, soalnya kalo sama2 terus nanti kelas kita gak nambah2 materinya.

    Suka

  2. Iya semoga ada kebijakan baru, para pengungsi yg susah diatur ga nurut aturan di Jerman secepatnya di kembalikan ke negara asalnya. Para pengungsi ini dapat tempat tinggal gratis, sekolah gratis, dapat uang bulanan pula, serba enak tp ga tahu diri. Ada oknum2 juga yg pakai uang bulanan buat beli minuman keras. Suami pernah cerita katanya sih akhirnya di kasih voucher belanja nah mereka ga suka.

    Suka

    • Berarti bukan sekedar gosip ya? Cuman si posisi kita ya serba salah..takut di anggap mendiskriminasikan dan lain sebagainya, aku kenal beberapa yang baik dan tidak neko neko..cuman ya itu umumnya banyak yang susah di atur juga.

      Suka

  3. Kesannya kok jadi kayak ga tau diri ya sudah diijinkan ngungsi disana.. Semoga deh ada aturan yg diberlakukan spy mereka bisa kembali ke tempat asal.

    Suka

    • Amen, sebenarnya aku pikir kalau orang orangnya benar benar taat aturan dan mau menghormati aturan yang ada justu memang harus di rangkul ( karena kalau di pikir kasian sudah kehilangan banyak hal di negara asal ), yang bikin kesal ya cuman golongan perusuhnya aja, semoga ada kebijakkan baru ^^

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s